“Well life will pass me by if i don’t open up my eyes. Well,
that’s fine by me” –AVICII–
Hal ini berawal dari sebuah tulisan yang ditulis oleh Dara
Prayoga berjudul Yth, Ayah yang Kuharap Menjadi Ayahku yang kubaca pada
siang hari 26 Januari 2014. Aku sendiri tak mengenal Dara Prayoga. Aku hanya
mengenalnya melalui timeline twitter seseorang. Seorang pengamat hidupkah aku
tak peduli. Aku hanya tertarik dengan yang ia tulis. Mengenai ‘kahyangan’ atau
tokoh Ayah penjaga kahyangan tersebut, dan juga bidadari kecilnya.
Jika yang ia tulis itu sebuah realita, maka realita tersebut
mungkin dimiliki oleh banyak orang di dunia. Tentunya dengan kejadian yang
berbeda-beda dengan tokoh Ayah. Akupun salah satunya yang pernah mengalaminya.
Bedanya dengan Dara Prayoga, aku tak pernah bertemu dengan tokoh Ayah, bidadari
kecilnya sendiri yang menghalang-halangiku untuk bertemu bicara bahkan sedekar
untuk menyapa, bahkan melihatpun tak pernah. Bahkan jika ada aku juga tak
pernah bertemu dengan tokoh Ibu, tokoh Kakak atau yang lain. Alasannya jelas,
sang bidadari kecil takut untuk men-show up hubungan yang dijalani waktu itu.
Aku pun harus mengerti, karena bidadari kecil jelas lebih mengenal tokoh Ayah
sehingga bisa mengira-ngira apa yang terjadi jika aku bertemu sang ayah.
Aku juga memiliki apa yang disebut kahyangan. Kahyanganku
adalah rumah bercat merah jambu yang sebagian dindingnya terlapisi keramik
berwarna merah tua. Berpagar jeruji berwarna merah tua dan banyak tumbuhan
didepannya. Berandanya terisi dengan meja rendah lebar yang kadang juga
digunakan untuk duduk, diatasnya terdapat tumpukan koran, mungkin terbitan
beberapa hari lalu. Sedangkan untuk koran hari ini masih terhampar dan
ditinggalkan oleh pembacanya, sebuah halaman penuh gambar, berwarna dominan
pink dan pada headernya tertulis “FOR HER”. Benda lain yang ada disana mungkin
hanya penebah dan daun kering yang berasal dari tumbuhan dekat pagar.
Daya tarik kahyangan ini adalah bidadari kecilnya yang
keluar dengan pakaian khas anak rumah dan rambut yang sedikit basah. Sepertinya
habis mandi. Karena dia takkan mengizinkanku datang kesana jika ia belum mandi.
Setelah itu ia mempersilahkanku di beranda dan aku tak pernah masuk ke ruang
lain. Disana ia akan kembali menekuri bacaan koran yang ia tinggalkan tadi
mungkin selagi mandi dan membiarkanku memandangnya lama-lama sambil heran
kepada diri sendiri mengapa aku yang seperti ini bisa mendapatkan bidadari yang
begitu manisnya.
Hal lain yang mungkin dilakukan adalah ia akan masuk membawa
dua air mineral kemasan, menaruhnya didekatku yang akhirnya ikut juga membaca
koran. Ia mulai mendengarkan lagu dari mp3 player di handphonenya. Lalu mulai
bertanya-tanya, tentang keadaanku, tentang teman-temanku atau pendapatku
tentangnya. Suaranya yang khas anak kecil mengalir renyah melewati gendang
telinga, memukul tulang-tulang pendengaran lalu biologi seperti tak berlaku
lagi, efek suara itu akan mengalir ke hati, menaikkan kadar gula darah untuk
sebuah energi yang akan kugunakan beberapa minggu berikutnya.
Kebahagian itu akan berakhir pada pukul 1 siang, saat jam
tokoh Ayah pulang dari kantor. Saat itu dengan wajah mendesak setengah panik ia
akan menyuruhku pulang, membawakanku beberapa gelas air mineral dan mengatakan
“Hati-hati di Jalan”. Sama seperti Dara Prayoga, kata-kata yang diucapkannya
itu membuatku meleleh dan rasanya tidak mustahil untuk terbang. Aku tersenyum.
Kedua kalinya aku berkunjung ke kahyangan, dia menangis.
Gara-garanya, saat itu sekolahku dan sekolahnya akan pulang pagi karena dalam
suasana halal bi halal seusai Idul Fitri. Dan aku akan ke sekolahnya dan pulang
bersama. Ternyata sekolahku tidak jadi pulang pagi. Ia lalu pulang sendiri
menaiki angkot. Dan saat aku menyusulnya ternyata di sekolahnya sudah tak ada.
Aku pun bergegas ke rumahnya, ke kahyangan. Disana, hanya ada tumpukan koran
tanpa sehelai halaman yang terhampar. Hanya, disana terdapat jaket almamater
berwarna merah marun bertuliskan namanya dan jaket tersebut basah dibagian
kerahnya karena digunakan untuk mengelap air mata. Aku lalu memanggil ke dalam.
Ia keluar dengan pakaian seragam dan mata yang sembap sedikit terisak, lalu
duduk. Aku lalu mengambil satu gelas air mineral, kutancapkan sedotan
diatasnya, mengelap air matanya sambil meminta maaf. Ia berhenti terisak namun
air mata masih mengalir di matanya. Sebenarnya aku siap untuk menjadi 'a
shoulder to cry on’ untuknya, namun keadaan kami sedang berada di beranda bisa
dilihat orang yang bisa berprasangka yang tidak-tidak. Aku kembali mengelap air
matanya dan meratakan rambutnya yang berantakan dengan tanganku. Matanya masih
merah, namun tangisnya reda. Seperti biasanya ia mulai bertanya-tanya dan
sedikit bercerita. Aku mendengarkan dan sesekali bercerita. Pulangnya, ia
membawakanku segelas air mineral kemasan dan buku Harry Potter seri 3. Kini
buku itu masih ada, kuletakkan di sisi tempat tidur untuk kubaca setiap malam
sebelum tidur, membaca beberapa kalimat atau hanya sekedar melihat namanya yang
tertulis di sampul depan.
Itulah terakhir kalinya aku berada di kahyangan menurut
versiku. Kini, kahyangan itu telah pindah dan aku tak tahu dimana. Bidadari
kecilnya pun kini sudah melupakanku. Dia punya rencana hidup yang lebih hebat
dan akan berjalan tanpa aku. Namun jika ia ingin tahu sambil menunjuk dadaku
aku akan meberitahunya bahwa dia masih ada disana.
“I leave the door on the latch, if you ever come back,
they’ll be a light on the hall and the key under the mat” –The Script–
Tidak ada komentar:
Posting Komentar