Jumat, 24 Agustus 2012

Tinggal Selangkah Lagi Kita Nyemplung Got


Siang itu cerah, matahari timbul tenggelam dibalik gumpalan awan yang ikut terang tergesa-gesa meluncur ke ufuk barat untuk memulai gelap. Namun jam ditangan telah menunjukkan pukul 3. Suasana sekolah tua itu sepi, tinggal sekelompok anak bengal yang tertawa mendengar gurauan salah satu temannya duduk di beranda sebuah kelas.
Beberapa meter dari mereka duduk sang ketua OSIS yang kini duduk di kelas XII. Meradang memandangi langit dan terkesan dalam raut wajahnya kekhawatiran akan masa depan. Sedangkan yang lain ada di masjid sekolah untuk salat ashar. Hari-hari itu bulan Ramadhan dan pondok ramadhan sedang digelar di sekolah tua itu untuk anak-anak kelas X.

Sekelompok anak tadi maupun sang ketua OSIS tak jua pergi ke masjid untuk bergabung dengan yang lain untuk salat ashar. Adzan ashar rupanya tak mampu untuk memadamkan tawa sekelompok anak maupun lamunan sang ketua OSIS tadi.
Hisyam, nama salah seorang dari sekelompok anak yang sedari tadi mengocok perut kawan-kawannya. Tubuhnya kecil, kakinya memiliki kelainan berbeda panjang hingga melihatnya berjalan terasa menggelikan, namun suaranya kencang tak terkira, ia kenal dengan sang ketua OSIS tadi karena rumahnya berdekatan. Hisyam lalu mengganti bahan leluconnya. Ia membicarakan orang yang sedang duduk beberapa meter dari mereka itu.
“Sipit-sipit gitu jadi ketua OSIS....” Hisyam menarik pelatuk penghujatan, tawa meledak dari sekitarnya.
“ Tahu ngga lo, waktu kecil kita main-main bareng kan. Dia pipis dicelana tau. Hahahaha” Mulutnya berkata lagi namun tak seorangpun tertawa. Yang sedari tadi duduk kini bangkit dan langkahnya menuju ke sekelompok anak-anak itu.
Hisyam langsung menyadarinya. Ia berlari ke arah lapangan, larinya cepat namun tubuhnya berguncang hebat karena kelainan kakinya. Tapi lari sang ketua OSIS lebih cepat. Dengan cepat ia meremas pundak tubuh kecil itu dan menindihnya jatuh ke tanah. Seketika ia bangkit namun remasan tangannya tak lepas dari tubuh Hisyam.
Kini tangan kirinya meremas bagian atas baju koko yang dipakai Hisyam, membuat satu kancingnya terlepas dari tempatnya. Wajahnya memerah seperti api. Sebuah gelombang kemarahan yang sebelumnya belum pernah ada.
“Jangan main-main lo ama gua!!!!! Gua sikat remuk lo!!!!! Jangan malu-maluin gua lo disini” Teriak sang ketua OSIS, tangannya terkepal siap untuk meninju.
Tiba-tiba dari belakang, dua orang pengurus takmir masjid sekolah (yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pondok ramadhan kali ini) memisahkan Hisyam yang ketakutan dan sang ketua OSIS yang terbakar emosi.
“Udah mas, udah mas, inget...inget....Bulan Puasa....” Kata salah seorang pengurus takmir.
Sang ketua OSIS lalu melepaskan tangannya dari baju Hisyam.
“Salat!!!” bentaknya kepada Hisyam.
Hisyam kembali ke kawanannya yang sudah mengambil langkah untuk pergi ke masjid.
Ingat bahwa dirinya sendiri juga belum salat, sang ketua OSIS dengan wajah yang masih mengungkapkan kemarahan lalu berjalan di belakang kelompok anak-anak tadi yang didampingi pengurus takmir. Pandangan mereka tertuju ke depan dan tak berani menoleh ke belakang untuk melihat sang ketua OSIS.

“Beneran kejadian yang kaya gitu??” Kata Si Admin.
“Iyalah, anak-anak kaya mereka. Andai bisa diatur dikit aja. Bukan hanya kali ini aja. Mereka udah ngga punya takut, bahkan sama guru” Kata temen si Admin.
“Kira-kira di sekolah sebelah ada ngga problem kaya gini?” Tanya si Admin.
“Ada pasti, begini memang negeri ini. Tapi mereka dalam proses menuju yang lebih baik. Sekolah sebelah tambah pinter-pinter, pergaulannya makin baik. Sekolah yang itu tesnya diperketat. Ironisnya, ketika mereka dalam proses memperbaiki kita malah makin rusak. Gimana SMA kita beberapa tahun lagi? Tinggal selangkah lagi kita nyemplung got”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar